November, 2008

curhat

Aku tau artinya curhat itu kan curahan hati. Awalnya aku bingung hati kok pake dicurahkan segala, tapi lama-lama aku paham bahwa curhat itu menceritakan apa yang mengganjal di hati. Dan gak munak juga aku sering curhat tapi aku seringnya curhat ke buku yang dinamakan buku diary.

Nah yang aku gak mengerti setiap kali aku berteman sama makhluk yang berjenis cowok, pertama kali selalu diawali dengan curhat ini dan yang dicurhatkan ya itu-itu saja. Tentang ceweknya yang dulu, tentang mantan kekasihnya, atau tentang seorang cewek yang suka sama dia. Apa untungnya coba cerita kayak gitu ke seorang cewek yang baru saja dikenalnya. Apa dengan curhat seperti itu aku akan merasa iba dan kasihan terhadap ceritanya, sebel iya.

Bukan hanya itu cewek juga sama menyebalkannya saat lagi curhat, aku tau memang dengan curhat bisa meringankan beban di hati. Nah tapi kalau keseringan juga bukan curhat namanya tapi seperti memberitahu ke orang lain inilah aku yang punya kisah yang menyedihkan, kan yang namanya curhat selalu isinya yang sedih-sedih. Dan sepertinya mereka yang curhat-curhat itu seperti berlomba-lomba kisah siapa yang paling menyedihkan. Aduh, pliz dech memangnya ini sebuah sinetron.

Bukannya yang namanya curhat itu minta bantuan untuk menyelesaikan masalah atau kalau enggak, pasti minta saran apa yang dia lakukan terhadap masalahnya ini. Dan yang paling tidak kusuka saat minta pendapat dan saran seharusnya orang harus menerima semua saran yang diberikan tapi kebanyakan enggak ada yang menyetujui saran yang ada. Malah yang terjadi mereka malah bingung setelah bercerita panjang lebar dan menurutku kebingungan itu terjadi gara-gara kita sendiri. Toh yang namanya masalah bukan untuk dijadikan beban tapi masalah itu tercipta agar kita bisa belajar, kan hidup ini bangku sekolah yang gratis selain sekolah.

Memang aku tidak suka dengan orang yang selalu mengekspose masalah dalam kehidupannya, atau sering curhat. Aku juga pernah curhat, apalagi saat aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Tapi toh teman curhatku yang paling setia cuma buku diary. Tanpa banyak bicara dan tanpa kritikan buku diary mendengarkan ceritaku dengan seksama. Dan setelah itu aku akan menemukan sendiri solusi yang harus aku ambil untuk menyelesaikan masalah. Ya memang sech setiap orang berbeda-beda, tapi masih tetap orang yang suka curhat kesana kemari itu namanya orang yang pamer sama masalahnya.

Aku pernah diberi suatu kenangan dari temanku dari malang, suatu kata-kata yang menurutku benar. “Nggak penting sebesar apa masalah yang kita hadapi. Bukan masalah yang bikin kita terbebani…!!! Tapi reaksi kita menghadapi masalah itu yang bikin kita punya beban.” Jadi bukan salah masalah yang ada yang membuat kita bingung, tapi reaksi kitalah yang membuat masalah itu sendiri menjadi membingungkan.

Nick name

Sebenarnya aku juga belum begitu memahami apa itu yang dinamakan nick name, apakah itu semacam nama panggilan atau nama beken atau mungkin nama populer. Tapi sepertinya aku merasa nick name itu kedengarannya seperti gaul. Maka dari itu aku menulis nick name disini karena kedengarannya seperti asyik.

Yach sebenarnya juga aku punya satu nama yang mungkin bisa dianggap nick name tapi menurutku hanya nama panggilan aja, karena teman-temanku suka memanggil namaku dengan nama ini daripada nama asliku. Dan sebenarnya juga aku gak begitu suka awalnya dipanggil dengan nama ini, tapi toh lama-lama aku terbiasa juga, malah kalau dipanggil dengan nama asliku aku sepertinya asing.

Apakah mungkin setiap anak yang merasa dirinya gaul selalu punya nama beken atau nama populer. Ya gak munak juga dengan adanya nama panggilan itu kita lebih dikenal orang dan orang lebih mudah mengingat dengan nama panggilan daripada nama asli yang terkadang njelimet. Misalnya artis aja suka memakai nama beken daripada nama aslinya, atau mungkin juga mereka malu dengan nama asli mereka yang terkadang tidak beken makanya dengan adanya nama paggilan mereka lebih dikenal masyarakat.

Tapi kadang ada juga yang maksa memberi label nama beken pada dirinya yang terkadang kedengaran aneh hanya karena ingin dianggap sebagai anak yang gaul. Untung aja nama panggilanku atau nama bekenku itu terjadi dengan alami tanpa ada paksaan. Dan aku sekarang bangga karena dengan adanya nama panggilan itu aku lebih dikenal sama anak-anak, walaupun pertama kalinya aku risih. Tapi sekarang sudah mendarah daging tuch, malah terkadang saat aku dipanggil nama asliku aku tidak menoleh. Malah saat aku dipanggil dengan nick name atau apalah aku refleks menoleh. ^_^

Tapi yah walaupun begitu juga aku bangga dengan nama asliku, apalagi orang tuaku dengan susah payah mencari nama untuk anaknya. Dengan dibuatkan bubur segala (maklum asli orang jawa).

Saat menulis ini terbersit dalam pikiranku tentang kata-kata dari shakespare (mungkin) yang terkenal dengan kata-kata, “Apalah arti sebuah nama.” Dan menurutku arti sebuah nama itu penting-ting-ting-ting buanget. Salah besar kalau mengatakan hal kayak gitu, dengan adanya nama kita jadi lebih bisa menghargai diri kita. Dengan adanya nama orang jadi mengenal kita, “Oh itu toh yang namanya fitri.”, “Oh ini yang namanya ajeng.” Dan dengan adanya nama juga orang jadi lebih menganggap kita. Dan yang terakhir dengan adanya nama kita jadi mengenal apa itu yang dinamakan harga diri. Nah kalau gak punya nama orang akan manggil apa???

Nama itu penting banget, apalagi kalau namanya punya arti yang bagus. Ya walaupun gak punya arti yang bagus tapi toh sedikitnya kita masih bisa dihargai sama orang di sekitar kita. Jadi salah besar jika menganggap nama itu gak penting. Kalau gak penting kenapa sekarang banyak banget anak-anak muda sibuk mencari nick name buat dirinya sendiri. Tujuannya adalah agar lebih mudah diingat, dan lebih bisa dikenal.

Dan tanpa kita sadari nama itu sendiri bisa menggambarkan jati diri kita loh, karena seumur hidup kita selalu menggendong nama itu (walaupun tidak berat). Jadi nama juga bisa mencerminkan tentang diri kita. Maka dari itu banggalah terhadap nama sendiri, meskipun nama itu gak kelihatan gaul seperti Paijo, Painem, Tumini. Yang penting punya nama dan harga diri daripada tidak sama sekali.

Gotcha

Penulis : Endang Rukmana

Rangga, Radit, dan Bogi adalah biang rusuhnya SMU Bonafid. Adaaa aja kerjaan mereka yang bikin orang-orang pada bete. Ngisenginnya juga nggak tanggung, dari temen, guru, bahkan kepala sekolah  nggak luput dari ulah mereka. Sampai suatu hari keisengan mereka merembet ke penelitian ala Ghost Buster di gudang sekolah yang sudah bertahun-tahun tidak terpakai. Nggak nyangka, oh nggak nyangka….BANYAK hantunya!

Mereka kalang kabut jadi bulan-bulanan hantu rese beraneka spesies : dari hantu latah sampe hantu tukang kebun yang demen banget nakut-nakutin dengan gunting gedenya. Ketemunya juga dimana-mana - ugh, bener-bener nyebelin plus nakutin tuh hantu-hantu. “Aduuuh, aduuuh, gimana donk?” ujar salah satu dari mereka, panik. “Masa kita bakal dibuntutin kayak gini terus?”

Novel adaptasi karya Endang Rukmana ini emang lain dari yang lain. Kapan lagi coba, horror dan komedi nyampur jadi satu? Dijamin ketawa sampe mati, hi hi hi hi!

kata-kata gaul

Pernah kudengar kata-kata sapaan yang menurut anak muda sebagai kata gaul. Dan sering digunakan untuk menyapa teman, gak jarang juga aku sebagai pemakai kata-kata itu. Sering terdengar anak muda menyapa temannya dengan, “What’s up brow.”, “Whoi chuy.”, “Abis darimana choy?”, “Wues, parah loe sob.”, “Ya gak gitu lah man.”, “Nyante donk prend.” de-el-el yang mungkin di setiap daerah berbeda-beda.

Aku gak begitu tahu asal mula kata-kata ini sampai bisa menjamur dimana-mana. Sepertinya saat kita menggunakan kata-kata itu, jadi kelihatan seperti anak gaul. Terlalu aneh kan, hanya berbekal kata-kata seperti itu sudah seperti anak gaul. Dan ternyata menjadi anak gaul itu lebih ribet dari ibu-ibu yang mau melahirkan anak pertamanya. Yang kita harus punya pacar lah, yang harus punya genk lah, dan sekarang yang kata-kata.

Padahal hanya kata-kata yang gak ada makna sama sekali, yang cuma terdiri dari penggalan kata kan. Seperti sob, itu penggalan dari kata sobat (bukannya sob buntut loh, itu mah makanan). Dan menurutku kata-kata itu hanyalah sebuah panggilan terhadap teman, dan bukanlah kata-kata yang harus dipakai agar kita bisa dianggap gaul. Walaupun gak pakai kata-kata seperti itu juga kita bisa menjadi gaul dengan tidak berpikiran dangkal.

Dan sepertinya kata-kata itu makin lama makin banyak aja, ya yang terpenting kita gak ikut-ikutan aja untuk mencoba jadi anak gaul. Toh dengan menjadi diri sendiri lebih asyik. Atau mungkin saja kita bisa menciptakan kata-kata gaul yang lain.

Kedewasaan

Terkadang saat kita naik kelas dan merasa udah besar, kita juga merasa kalau diri kita udah dewasa. Apakah kedewasaan itu sendiri diukur dengan kelas berapa kita sekarang? Lantas kalau anak itu tidak sekolah apa berarti kalau anak itu tidak akan pernah bisa dewasa?

Aku heran sendiri dengan gaya pemikiran seperti itu. Aku pernah mendengar seorang anak mengatakan seperti ini, “Sekarang aku udah SMA berarti aku udah dewasa dan bukan anak-anak lagi.” Nah berarti kalau SMA udah dianggap dewasa, lantas kalau kuliah dianggap tua gitu.

Aku juga pernah ketemu anak kuliah yang kelakuannya masih kayak anak-anak, nah kalau kayak gitu dia dianggap apa donk? Dewasa? Anak-anak? Bukankah dia udah kuliah?

Tolok ukur seperti itulah yang salah, saat kita memasuki ruang kelas baru, kita juga berpikir kalau kita udah dewasa. Bukankah kedewasaan itu sendiri sebenarnya diukur dari cara berpikir kita dalam menyikapi suatu keadaan. Walaupun tidak sekolah sekalipun kalau anak itu bisa meletakkan dirinya dalam suatu keadaan berarti dia juga bisa dianggap dewasa. Bukankah juga ada pepatah “experience is the best teacher”. Berarti pengalaman juga bisa menjadi suatu pelajaran buat kita biar bisa menjadi dewasa. Toh yang namanya kehidupan adalah bangku sekolah yang gratis, tanpa bayar kita bisa mendapat pelajaran yang tidak bisa kita peroleh di sekolah.

Aku juga pernah mendapat teguran dari ibuku, “Kamu itu udah gede tapi kok kelakuan masih kayak anak kecil.” Nah ini dia, emang kenapa dengan kelakuan?! Apa ada yang salah dengan kelakuan anak kecil. Apa ada peraturan bahwa kalau udah besar tidak boleh berkelakuan kayak anak kecil. Atau selain diukur dari kelas berapa, kedewasaan juga diukur dari suatu kelakuan. Bukankah kita bebas berekspresi, nah berarti gak ada masalah donk kelakuan dengan kedewasaan. Atau jika kita udah besar, kita gak boleh berkelakuan semau kita lagi. Bukankah HAM masih berlaku, nah kenapa harus ada larangan kalau udah besar gak boleh berkelakuan kayak anak-anak.

Apapun kelakuannya atau kelas berapapun, kedewasaan hanyalah suatu pemikiran dalam menyikapi suatu masalah.

Next Page »