curhat
Aku tau artinya curhat itu kan curahan hati. Awalnya aku bingung hati kok pake dicurahkan segala, tapi lama-lama aku paham bahwa curhat itu menceritakan apa yang mengganjal di hati. Dan gak munak juga aku sering curhat tapi aku seringnya curhat ke buku yang dinamakan buku diary.
Nah yang aku gak mengerti setiap kali aku berteman sama makhluk yang berjenis cowok, pertama kali selalu diawali dengan curhat ini dan yang dicurhatkan ya itu-itu saja. Tentang ceweknya yang dulu, tentang mantan kekasihnya, atau tentang seorang cewek yang suka sama dia. Apa untungnya coba cerita kayak gitu ke seorang cewek yang baru saja dikenalnya. Apa dengan curhat seperti itu aku akan merasa iba dan kasihan terhadap ceritanya, sebel iya.
Bukan hanya itu cewek juga sama menyebalkannya saat lagi curhat, aku tau memang dengan curhat bisa meringankan beban di hati. Nah tapi kalau keseringan juga bukan curhat namanya tapi seperti memberitahu ke orang lain inilah aku yang punya kisah yang menyedihkan, kan yang namanya curhat selalu isinya yang sedih-sedih. Dan sepertinya mereka yang curhat-curhat itu seperti berlomba-lomba kisah siapa yang paling menyedihkan. Aduh, pliz dech memangnya ini sebuah sinetron.
Bukannya yang namanya curhat itu minta bantuan untuk menyelesaikan masalah atau kalau enggak, pasti minta saran apa yang dia lakukan terhadap masalahnya ini. Dan yang paling tidak kusuka saat minta pendapat dan saran seharusnya orang harus menerima semua saran yang diberikan tapi kebanyakan enggak ada yang menyetujui saran yang ada. Malah yang terjadi mereka malah bingung setelah bercerita panjang lebar dan menurutku kebingungan itu terjadi gara-gara kita sendiri. Toh yang namanya masalah bukan untuk dijadikan beban tapi masalah itu tercipta agar kita bisa belajar, kan hidup ini bangku sekolah yang gratis selain sekolah.
Memang aku tidak suka dengan orang yang selalu mengekspose masalah dalam kehidupannya, atau sering curhat. Aku juga pernah curhat, apalagi saat aku sudah tidak tahan dengan semuanya. Tapi toh teman curhatku yang paling setia cuma buku diary. Tanpa banyak bicara dan tanpa kritikan buku diary mendengarkan ceritaku dengan seksama. Dan setelah itu aku akan menemukan sendiri solusi yang harus aku ambil untuk menyelesaikan masalah. Ya memang sech setiap orang berbeda-beda, tapi masih tetap orang yang suka curhat kesana kemari itu namanya orang yang pamer sama masalahnya.
Aku pernah diberi suatu kenangan dari temanku dari malang, suatu kata-kata yang menurutku benar. “Nggak penting sebesar apa masalah yang kita hadapi. Bukan masalah yang bikin kita terbebani…!!! Tapi reaksi kita menghadapi masalah itu yang bikin kita punya beban.” Jadi bukan salah masalah yang ada yang membuat kita bingung, tapi reaksi kitalah yang membuat masalah itu sendiri menjadi membingungkan.
Comments(0)
Penulis : Endang Rukmana