Membludak

Selalu seperti ini kejadiannya, membludak semua pikiran dalam otak saya, mengumpul jadi satu pengen cepat-cepat dikeluarkan tapi rasa malas yang menyerang membuat diri ini menahannya dulu hingga akhirnya perasaan jadi membingungkan. Membludak semua yang ada di kepala, mendorong ingin segera dikeluarkan. HUH!!!

Abis Lebaran yak, kemaren Lebaran diajak ke desa mama di Kediri naik kereta api…. Alamaaaakkkk uyel-uyelan tapi untung pulangnya bisa bernapas lega. Di desa gak ada kejadian lucu, cuman ngumpul-ngumpul saja disana. Gak ada yang seru.

Dan sudah mulai masuk kuliah nih, perasaan liburku berkurang dech. Hufzzz….. *menghela napas*. Hari minggu kemaren kerumahnya Ayu silaturrahmi sekalian mengunjungi karena ibunya barusaja meninggal dunia, sungguh pikiranku langsung gak karuan, Aku berpikir jika aku yang mengalami hal seperti Ayu mungkin aku gak akan kuat dan malah akan menjadi orang bego. Ayu sungguh temanku yang paling tangguh, dia mampu mengurusi dirinya dan keluarganya, ibunya yang menderita penyakit stroke dan adiknya yang terkena polio. Hingga Ayu memutuskan untuk berhenti sekolah demi mengurusi keluarganya, sungguh temanku yang paling kuhargai karena dia rela meninggalkan bangku sekolah yang sangat disayanginya, karena Ayu mempunyai cita-cita yang tinggi dan semangat sekolahnya lebih besar dibanding teman-teman yang lain. Dia rela meninggalkan itu semua demi mengurusi ibu dan adiknya.

Aku gak bisa bayangkan jika aku mengalaminya, mungkin aku gak akan bisa sekuat dan setegar Ayu. Meski begitu dia selalu kelihatan ceria bila bersama teman-teman, bila maen ke rumah selalu dia membuat suasana ceria. Dan aku bahagia saat Ayu tengah mengatakan kalau dia akan menikah, hingga berita kemarin kudapatkan, ibunya meninggal dunia. Kata Ayu dengan tersenyum. Merinding aku mendengar ceritanya.

Ayu temanku, aku sangat mengagumimu. Lah malah cerita tentang Ayu padahal niatan mau cerita tentang membludaknya pikiranku yang ada. hehehehe